Masih menyangkut sahabat gue di post sebelumnya. Beberapa waktu yang lalu tepatnya tiga hari setelah premiere, gue nonton film Spiderman 3. Itu bener-bener film yang KEREN. Gak tau kenapa temen-temen gue bilang "Ih biasa aja lagi". Gue, sebagai orang yang udah 'dikasih makan' komik, film kartun & serial, miniatur, dan action figure Spidey sejak balita, nonton film Spidey yang di-remake dengan aktor-aktor dan visual effect kayak gitu is A VERY BIG DEAL. Those Spidey movies and sequels are HOT!! Siapa yang berani bilang itu film jelek, hadapin gue dulu!! Hahaha...
Kembali ke sahabat gue. Mungkin dia juga mengalami apa yang dialami si Peter Parker di film Spidey 3 ini, gimana Venom 'nempel' di badan Peter dan ngerubah dia jadi orang yang bener-bener beda. Atau tepatnya beda dalam arti jadi orang yang di jalan yang salah. Pas gue ceramahin sahabat gue, dia bilang "Sekarang gue langi nikmatin nih... Ntar juga pasti gue berhenti. Tenang aja.". But when?? Jangan bilang dia berhenti kalo udah mati. Percuma dong bo'...
Tapi gue percaya kalo dia nggak totally jadi anak nakal. Gue yakin dia juga struggle, sama halnya kayak yang dilakukan Peter. Peter berusaha buat merenung dan 'insyaf' setelah dengan nggak sengaja dia nampar Mary Jane, the one he's in love with. Mungkin kalo udah ada sesuatu yang terjadi, I mean like did something bad yang ngerugiin orang lain, sahabat gue itu akan mulai merenung dan mulai berubah.
Scene berikutnya, adalah Peter merenung di dalam kostum Spidey yang serba hitam (yang menurut gue malah jauh lebih keren daripada yang merah-biru, hehehe), menundukkan kepala di dalam hujan, mencoba menyingkirkan semua pikiran setan yang udah merasuki otaknya (I think this is the coolest scene of all!). And then dia nyoba ngelepas kostum hitam itu di dalam puncak tower gereja. At first, it was so hard, karena kostum itu udah bener-bener nempel di kulit Peter. Tapi akhirnya, dengan ketidaksengajaan dia nyenggol lonceng raksasa, trus langsung bersuara kenceng, dan itu ternyata bikin si Venom jadi labil, dan keluar dengan sendirinya. Di dalam cerita sahabat gue, mungkin suara lonceng itu adalah jeritan-jeritan hati gue dan sahabat-sahabat SMA yang lainnya, yang bener-bener nggak pengen dia jadi seperti ini. Semoga aja doa kami semua bikin dia nyadar, dan semua hal negatif yang merasuki dirinya jadi hilang.
And then, Peter sadar diri. Dia kembali jadi Peter yang dulu, yang santun abis, gak pernah ngatain orang, gak pernah mementingkan dendam pribadi. Soal Venom yang nempel di dalam dirinya, kurang lebih (seinget gue) dia bilang kekuatannya emang hebat, dan kita bisa bebas banget ngelakuin apa yang kita suka, tapi dia nyadar kalo semua itu hanya ngerugiin orang lain, karena dilandasi kemarahan, emosi, dan dendam semata. Semoga setelah sadar, sahabat gue bisa ngasih pelajaran yang bagus buat temen-temen lainnya.
Overall, mungkin gue salah sangka. Gue selama ini terlalu menyalahkan teman-teman barunya dia, yang notabene emang tukang clubbing. They're not the real enemy. Satu hal yang harus kita lawan adalah hawa nafsu pada diri kita masing-masing. Di kala kita mendengarkan nafsu itu, kita cuma pengen melakukan apa yang dianggep bagus buat kita, not for the others. Instead, listen to your heart. Hati nurani manusia itu selalu benar, karena menurut gue di situlah Tuhan berbicara, ngingetin kita biar kita selalu menaati peraturan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Lho kok malah ceramah keagamaan, let's back to Spidey movies. Huhuhuhu gue ampe terharu saking kerennya tuh film. Film ini bener-bener ngasih pesan hidup yang amat sangat dalam. Gimana seorang hero seperti Spidey pun juga sama kayak manusia biasa lainnya. Dari film pertama, kedua, dan ketiga, di situ lebih fokus ke bagaimana kehidupan pribadinya seorang hero yang bernama Spiderman ini. He struggles for his own life too. Dia gak cuma muncul tiba-tiba, ngalahin musuh-musuhnya and then saves the day. Dia punya banyak perhitungan dan pilihan hidup, tetep jadi Spidey yang menyelamatkan umat manusia dan punya banyak musuh, atau jadi Peter Parker biasa, si cowok culun tapi pinter (plus ganteng), dan bisa hidup damai sama Aunt May, menikah sama Mary Jane, dan tetep bersahabat sama Harry tanpa ada dendam dan tanpa kehilangan Harry. I feel so sorry for Spidey (for Peter too). Tanpa maksud mendiskreditkan superhero yang lain, but for me Spidey is the most human and real hero of all.
So, here we are. Let's fight the battle within!