Wednesday, February 28, 2007

Sinetron = DISASTER

Owkayh. Akhir-akhir ini Jogja diguyur hujan derasss sekale plus angin. Alhasil parabola di rumah kayaknya kegeser-geser, dan gambar di tv pun sering ilang-ilang. Alhasil nggak bisa nonton Laguna Beach. Akhirnya aku switch channel ke tv swasta lokal. Tapi, what's going on is semua acaranya adalah... sinetron. Dari SMA kelas 3 dulu aku udah anti-pati sama yang namanya sinetron Indonesia. Bener-bener bikin capek nonton dan ngebosenin. Yang bisa ditayangin itu cuma adegan seorang ibu ngebentakin anak tirinya, remaja-remaja SMA yang centil-centil ngelabrakin temennya yang culun, cewek yang nangis-nangis gara-gara diputusin cowoknya, cewek-cewek "malam" yang kerjaannya dugem mulu, dan sebagainya. I mean, apa sih maksud dari itu semua?

Itu cuma sebagian kecil adegan sinetron yang nggak aku suka. Dilihat dari sisi pemainnya, oh my God, cuma jual tampang doang. Mungkin si production house-nya berniat nyari pemain baru yang berbakat, tapi apa coba yang didapet? Kenapa mereka cuma nyari tampang aja? Kenapa nggak nyari yang bener-bener talented di bidang itu?? Dan sebagian besar dari mereka pun cuma bisa memerankan remaja-remaja yang (sorry) aku anggep "bodoh". Contohnya, ngapain sih pergi ke sekolah pake seragam yang ketat-ketat, pake aksesoris berlebihan, dari bando, anting, kalung, gelang, jepit rambut, dicampur jadi satu?? Perlu diingat bahwa sekolah adalah tempat berpendidikan, kalo mau mejeng dan kecentilan mendingan di pinggir jalan aja deh. Mungkin kita nggak ngerasain efek dari tayangan itu, tapi sekarang bisa dilihat kalo remaja-remaja itu nggak bisa pergi ke sekolah tanpa dandan dan ber-aksesori-ria. Dan niat untuk ke sekolah pun bukan untuk belajar lagi, melainkan buat ngerjain junior-nya, cari perhatian ke gebetan, dsb.

Nggak cuma itu, sinetron-sinetron sekarang juga terlalu menunjukkan jurang yang tajam antara si miskin dan si kaya. Nggak jarang di banyak sinetron digambarkan, orang kaya dengan rumah yang megah, mobil mewah, kamar ber-AC, anak yang manja, orangtua yang terlalu memanjakan, dan perilaku semena-mena sama pembantu. Sedangkan orang miskin, tinggal di kampung, rumahnya gubug, pakaiannya lusuh, dan seringkali ditindas sama si orang kaya. Dan banyak juga lho, yang niru hal itu di kehidupan nyata.

Menurut aku sinetron Indonesia juga menyebarluaskan gaya hidup remaja yang hedonis. Mereka nggak bisa hidup kalo nggak ada mobil, handphone, rumah mewah, dan harta-harta mereka. Mereka juga selalu dandan "wah" di setiap waktu. Dibandingkan dengan acara tv Amerika, contohnya kayak Laguna Beach (yang kebetulan favorit aku, hehe), gaya anak-anak Indonesia jauh lebih glamor. Bagi yang suka nonton, pasti tau LC kan?? LC itu tuh, dikenal sebagai anak arsitek kaya di Laguna Beach ini. Rumahnya emang oke banget, dan dia juga modis, tapi toh dari dandanan dan penampilan, dia natural banget. Dia nggak pernah tuh pake aksesoris yang berlebihan. Di reality show-nya sendiri, The Hills, dia nggak melulu mejeng ke mall dan dugem. Dia bener-bener kerja keras untuk bisa magang di majalah favoritnya, TeenVogue. Tapi dia juga tetep harus profesional di kampusnya. I think she's a very good person.

Perlu diingat, bahwa Indonesia adalah negara dunia ketiga alias negara miskin, tapi kenapa sih penduduknya bergaya hidup kayak gitu?? Kasarnya, ih belagu banget sih penduduk negara miskin tapi berlagak sok kaya. Beda sama anak-anak Laguna Beach, yang jelas hidup di Amerika, negara yang (saat ini) terkaya di dunia, tapi tetep hidup simpel. Dan menurut aku itu bisa jadi contoh yang bagus bagi orang-orang yang pengen tetep bisa sukses dan menjalani hidup tanpa "berpura-pura" menjadi glamor, sok kaya, dan sok punya segalanya.

Pokoknya yang aku tekankan di sini tuh, materi bukan segalanya dehh. Kayaknya sinetron Indonesia harus lebih diramaikan dengan sinetron kayak Dunia Tanpa Koma gitu. Kita sebagai penonton butuh suatu tontonan yang memberikan wawasan dan mendidik, bukan hanya sinetron yang bikin emosi, ketawa, dan nangis. Mungkin para production house cuma mikir keuntungan yang akan mereka raih kalo mereka bikin sinetron dengan pemain yang cakep dan cantik, jalan cerita tentang remaja, adegan kekerasan, dan ide cerita yang nyontek dari lagu yang lagi top. But believe us, we need more than that. Tolong kasih contoh dan efek yang bagus buat kita semua. At least, kita bakal mengingat sinetron itu sebagai sinetron yang bermanfaat, bukan cuma sinetron yang bikin nangis doang.

No comments: